Saturday, December 4, 2021

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

 






PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

oleh : Sutiana, S.Pd.SD

Guru SD Negeri Margamulya

UPTD Pendidikan Wilayah Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya

 

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya pepatah tersebut menyiratkan arti bahwa karakter seorang anak akan mencerminkan karekter orang tuanya. Apakah hal tersebut benar dan sesuai dengan realita pada masyarakat saat ini? Pandangan tersebut tentunya tidak sepenuhnya benar, mengapa demikian? Pada dasarnya Potensi karakter yang baik telah dimiliki setiap manusia sebelum dilahirkan sebagai fitrah dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, hal tersebut harus dibina dan dikuatkan supaya potensi karakter yang  baik tidak luntur.

Sesuai dengan teori tabula rasa dalam filosofi Locke pada abad 17. Seorang anak ketika lahir bagaikan “kertas kosong” tanpa aturan untuk memproses data. Perkembangan di usia kritis hanya dipengaruhi oleh panca indra. Setiap individu bebas mengaktualisasikan diri.

Berdasarkan asumsi tersebut dapat ditarik benang merah yang disebut kodrat atau alami.

Oleh karena itu, karakter perlu dibina sejak sedini mungkin. Tentunya dalam penyampaian disesuaikan dengan perkembangan usia seorang anak.  Nah, di sinilah peran sekolah menjadi sangat penting sebagai tempat pendidikan formal.

Sekolah tidak hanya sebagai tempat pengembangan akademis saja, tetapi juga merupakan salah satu sarana untuk membina dan menguatkan karakter peserta didik. Penguatan pendidikan karakter merupakan usaha yang terencana dengan tujuan menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan memiliki kemauan untuk melaksanakan nilai-nilai luhur pancasila sebagi dasar Negara Indonesia, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun negara. Artinya, agar berhati baik dan berperilaku baik .

 

PPK Sebagai Gerakan Revolusi Mental (GNRM)

Dewasa ini pemerintah sedang gencar menyosialisasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang merupakan gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan. PPK bertujuan memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga sebagai bentuk gerakan nasional revolusi mental (GNRM). Harmonisasi tersebut menjadi suatu keutuhan yang akan membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21.

Presiden Indonesia telah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). “Jadi baru saja saya tanda tangani mengenai Perpres Penguatan Pendidikan Karakter didampingi oleh para kiai dan pimpinan ormas. Dan saya sangat berbahagia sekali bahwa semuanya memberikan dukungan penuh terhadap Perpres Penguatan Pendidikan Karakter ini,” Ujar Presiden Joko widodo didampingi para pimpinan ormas, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (6/9/2017). Presiden Jokowi berharap pendidikan karakter dapat berjalan optimal di sekolah-sekolah umum, pesantren, dan madrasah.

Menjadi pertanyaan besar “Mengapa Penguatan Pendidikan Karakter begitu gencar disosialisasikan oleh pemerintah?” Tidak dapat dipungkiri saat ini Indonesia mengalami dan menghadapi kondisi degradasi mental moral, etika, dan budi pekerti atau bisa dikatakan mengalami krisis mental. Hal tersebut dapat diukur dari meningkat dan mengakarnya masalah moral bangsa yang dicirikan oleh membudayanya praktek korupsi, kolusi, nepotisme, kriminalitas, penggunaan narkoba, dan pergaulan bebas. Penyimpangan atau masalah sosial tersebut dilakukan tanpa pandang bulu. Artinya, dilakukan oleh berbagai kalangan, dari kalangan pejabat pemerintahan hingga warga sipil atau rakyat biasa.

Melihat realita maraknya penyimpangan atau masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat, tentunya perlu adanya penangan untuk memutus mata rantai atau setidaknya mencegah serta mengurangi. Bayangkan apa yang akan terjadi pada Bangsa Indonesia jika hal tersebut terjadi secara terus menerus! Tentunya bangsa ini akan hancur dan hanya menjadi sejarah saja nantinya.

Salah satu cara yang efektif sebagai tindak lanjut gerakan nasional revolusi mental (GNMR) untuk mencegah adalah melaui penguatan pendidikan karakter (PPK) di sekolah dasar. Sekolah dasar diharapkan mampu mengembangkan perilaku peserta didik secara maksimal. Sebagai perisai peserta didik yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa. Sebab pada usia emas atau golden age menentukan perkembangan potensi seorang anak sebagai modal dasar pada fase selanjutnya. Pengalaman dan pembiasaan yang baik akan selalu membekas sebagai sebuah kebiasaan yang mendarah daging dan melekat pada pikiran.

 

Peran Guru dalam Mengimplementasikan PPK di SD

Peserta didik pada usia sekolah dasar adalah fase menjadi plagiator yang ulung dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Apapun yang didengar dan dilihat akan terekam di otak dengan detail. Maka, mereka tidak segan-segan akan meniru apa yang terekam di otaknya. Oleh karena itu, penguatan pendidikan berkarakter harus dilakukan secara kontinu supaya nilai-nilai positif melekat erat di otak. Sehingga, peserta didik akan memiliki pertimbangan secara sadar dalam melakukan berbagai tindakan (mampu membedakan hal yang benar dan salah).

Guru sebagai orang tua kedua bagi peserta didik, memiliki peranan yang begitu mendominasi di sekolah. Guru sebagai tokoh utama dalam mengelola perkembangan peserta didik harus pandai-pandai mengemas dan memformulasikan segala kegiatan di sekolah. Sehingga dapat menjadi bermakna sebagai implementasi penguatan pendidikan karakter (PPK).

Selain mentransfer ilmu pengetahuan, tugas guru juga harus mengembangkan kepribadian peserta didik. Guru harus mampu mendesain diri untuk menjadi katalisator dan motivator. Saat berkedudukan menjadi katalisator, maka guru menjadi idola yang akan ditiru oleh peserta didik. Oleh karena itu, guru harus mampu menjadi tauladan yang baik bagi peserta didik. Guru harus berprilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur pancasila. Ketika berperan sebagai motivator, bermakna bahwa guru harus mampu membangkitkan potensi yang ada pada peserta didik.

 

Membentuk Good Habit (Kegiatan Pembiasaan)

Pembiasaan yang diterapkan adalah membiasakan beribadah, menjaga kebersihan, cinta tanah air, melestarikan kebudayaan, dan membiasakan antri. Dikelompokkan menjadi dua, yaitu pembiasaan rutin dan pembiasaan program.

  1. Pembiasaan rutin yang dilakukan adalah mengucap salam dan berjabat tangan, membaca asmaul khusna, salat dhuha, tadarus Alquran, salat berjamaah dhuhur, infaq rutin di hari Jumat, upacara bendera, berdoa sebelum dan sesudah makan, dan berdoa sebelum dan sesudah belajar, olahraga bersama setiap hari Jumat.
  2. Pembiasaan terprogram yang dilakukan adalah pesantren ramadhan, bakti sosial, pelaksanaan idul qurban, zakat fitrah, pelaksanaan manasik haji, pembagian takjil pada bulan ramadhan, home stay, pesantren ramadhan, dan tadzabur alam.
  3. Kegiatan Nasionalisme dan Patriotisme

Kegiatan nasionalisme dan patriotisme di SD Negeri Margamulya  memiliki tujuan mengenalkan dan mempraktikkan tentang nasionalisme dan patriotisme. Beberapa peringatan yang dilaksanakan di SD Negeri Margamulya adalah peringatan hari Kemerdekaan RI, hari Pahlawan, hari Kartini, dan hari Pendidikan Nasional dan setiap pagi ketika akan masuk ke kelas, peserta didik menyanyikan lagu nasional.

  1. Kegiatan Cinta Lingkungan

Kegiatan cinta lingkungan di SD Negeri Margamulya memiliki tujuan agar peserta didik memiliki kesadaran menjaga kebersihan dan melestarikan lingkungan agar tercipta lingkungan sehat. Sehingga, mendukung aktivitas belajar mengajar dengan suasana yang nyaman. Adapun cara yang dilakukan adalah dengan gerakan Alisa (ayo lihat sampah ambil), piket kelas, dan gerakan Jumat bersih.

 

Student Activities (Kegiatan Pengembangan Diri bagi Siswa)

Pengembangan diri merupakan kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minat sesuai dengan kondisi sekolah. SD Negeri Margamulya menyediakan berbagai ekstrakulikuler untuk memfasilitasi Contoh beberapa kegiatan ekstrakurikuler atau pengembangan diri diantaranya adalah tari merak, tari jaipong, seni degung sunda, renang, batik, tafidz, dan tilawah, melukis, catur, futsal, dokter kecil, HW atau pramuka,

 

Ini menjadi sebuah bukti bahwa pepatah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” tidak selamanya benar. Karena jika lingkungan tumbuh kembang anak tersebut baik, maka secara otomatis anak-anak akan tumbuh dengan karakter yang baik pula.

Pembentuk karakter pada anak harus dibina sejak dini agar “kertas kosong” terisi oleh coretan serta lukisan yang indah dan menarik. Selain lingkungan keluarga, sekolah sebagai rumah kedua juga menjadi penentu pembentukan karakter seorang anak. Oleh karena itu, dengan  menggunakan berbagai macam pendekatan, metode, dan memberikan fasilitas yang memadai dapat mendukung pengembangan penguatan pendidikan karakter untuk mencetak generasi sehat, cerdas, dan berkarakter baik yang nantinya akan menentukan eksistensi Bangsa Indonesia.