Saturday, September 27, 2025

STRATEGI DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SD TAHUN 2025

 

🛠 Strategi Implementasi di SD Tahun 2025


Oleh         :  Sutiana, S.Pd.SD
Sekolah    :  SDN Jayamukti Kec. Cikatomas Kab. Tasikmalaya

Untuk menjadikan Kurikulum Merdeka lebih nyata dan efektif di kelas SD, berikut strategi dan langkah praktis yang bisa diambil sekolah:

  1. Analisis kesiapan & diagnosis internal sekolah

    • Lakukan survei atau asesmen awal terhadap kesiapan guru, sarana/prasarana (IT, koneksi internet), perangkat ajar, dan karakteristik siswa.

    • Identifikasi kelas yang sudah menggunakan Kurikulum Merdeka dan kelas yang masih menggunakan K13 (jika transisi bertahap).
      → Contoh: satu SD melaporkan bahwa saat ini mereka sudah menggunakan Kurikulum Merdeka untuk kelas 1, 2, 4, 5, sementara kelas 3 & 6 masih K13, dan berencana sepenuhnya ke Merdeka di tahun ajaran baru.

  2. Pembentukan tim kurikulum & kolaborasi lintas guru

    • Bentuk tim khusus (guru, kepala sekolah) untuk mengelola transisi kurikulum.

    • Adakan lokakarya internal antar guru untuk menyelaraskan pemahaman tentang prinsip Kurikulum Merdeka, metode pembelajaran mendalam (deep learning), dan integrasi projek.

  3. Pengembangan dan adaptasi perangkat pembelajaran

    • Gunakan modul ajar yang sudah disediakan Kemendikbud dan sesuaikan dengan konteks lokal sekolah.

    • Kembangkan unit pembelajaran tematik yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran dan mengacu pada kompetensi esensial.

    • Rancang projek-projek (projek penguatan profil / projek lintas disiplin) yang relevan dengan lingkungan sekolah, budaya lokal, masalah nyata di sekitar sekolah.

  4. Penerapan metode pembelajaran “mendalam”

    • Fokus pada pemahaman konsep, pertanyaan bermakna, refleksi, dan penguatan keterampilan berpikir kritis.

    • Guru lebih berperan sebagai fasilitator: memberikan tantangan, membimbing eksplorasi, memberi ruang siswa untuk berpikir dan berdiskusi.

  5. Diferensiasi & personalize learning

    • Sesuaikan tugas dan aktivitas berdasarkan kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa.

    • Gunakan asesmen formatif secara berkala untuk memonitor perkembangan siswa dan menyesuaikan strategi belajar.

  6. Integrasi kokurikuler dan ekstrakurikuler dengan pembelajaran inti

    • Rancang kegiatan kokurikuler yang tidak terpisah dari materi pembelajaran, melainkan sebagai perkuatan (misalnya proyek seni terkait tema pelajaran, kegiatan lingkungan, coding sebagai perpanjangan tema IPA/matematika).

    • Jalankan ekstrakurikuler kepramukaan / kepanduan sebagai ruang karakter dan kepemimpinan siswa.

  7. Penerapan mata pelajaran pilihan (koding & AI)

    • Untuk kelas 5–6, mulailah menguji coba pengenalan koding dan konsep dasar AI sebagai mata pelajaran pilihan.

    • Siapkan guru dengan pelatihan literasi digital dan perangkat pembelajaran yang relevan.

  8. Monitoring, evaluasi, dan refleksi rutin

    • Lakukan pemantauan berkala (evaluasi internal) mengenai efektivitas pembelajaran dan hambatan yang muncul.

    • Adakan refleksi bersama guru secara berkala (setiap bulan atau per semester) untuk memperbaiki strategi pengajaran.

  9. Pelibatan orang tua, komunitas, dan lingkungan sekitar

    • Ajak orang tua untuk memahami filosofi Kurikulum Merdeka dan cara mendukung pembelajaran anak di rumah.

    • Undang pelaku lokal, tokoh masyarakat, atau praktisi untuk jadi bagian dari projek siswa, sehingga pembelajaran menjadi kontekstual.


⚠ Tantangan dan Catatan Penting

Walaupun regulasi memberi landasan yang lebih mantap, ada beberapa hambatan nyata yang perlu diperhatikan:

  • Kesenjangan infrastruktur dan konektivitas di beberapa wilayah, terutama daerah jauh atau 3T — ini menyulitkan penerapan modul digital dan penggunaan teknologi.

  • Ketersediaan dan kesiapan guru — masih ada guru yang belum sepenuhnya paham filosofi Kurikulum Merdeka, atau belum terbiasa dengan metode pembelajaran mendalam.

  • Beban administratif atau adaptasi perangkat ajar — meskipun regulasi menyederhanakan beberapa hal, adaptasi perangkat dan perencanaan projek masih membutuhkan usaha ekstra.

  • Evaluasi & asesmen yang tepat — memastikan penilaian tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga keterampilan dan sikap, sehingga tidak “kembali ke ujian tradisional.”

  • Transisi kelas yang belum menggunakan Kurikulum Merdeka — sekolah yang masih menggunakan K13 perlu rencana transisi matang agar tidak terbebani saat perubahan penuh.

No comments:

Post a Comment